Rabu, 12 Desember 2012

KARAKTERISTIK BAHASA

BAB II
KARAKTERISTIK BAHASA

2.1  Tujuan
            Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat:
a.       mengidentifikasi karakteristik bahasa manusia
b.      menjelaskan bahasa sebagai sistem
c.       menjelaskan bahasa sebagai lambang
d.      menjelaskan bahasa adalah bunyi
e.       menjelaskan bahasa itu bermakna
f.       menjelaskan bahasa itu arbitrer
g.      menjelaskan bahasa itu konvensional
h.      menjelaskan bahasa itu produktif
i.        menjelaskan bahasa itu bervariasi
j.        menjelaskan bahasa itu manusiawi
k.      menjelaskan bahasa itu unik
l.        menjelaskan bahasa itu dinamis

2.2  Materi
Bahasa manusia mempunyai karakter sebagai berikut.  Bahasa merupakan (1) suatu sistem, (2) suatu lambang, (3) suatu bunyi, (4) bermakna, (5) arbitrer, (6) konvensional, (7) produktif, (8) dinamis, (9) unik, (10) universal, (11) manusiawi, (12) bervariasi. Masing-masing ciri akan dipaparkan dalam uraian berikut.
A.    Bahasa sebagai Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Suatu sistem dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya berhubungan secara fungsional.  Sebagai contoh, kita dapat mengamati yang terdapat dalam tubuh kita. Tubuh manusia sebagai suatu sistem terdiri atas bagian-bagian yang saling berhubungan. Ketika salah satu bagian mengalami suatu gangguan, hal tersebut akan mengganggu kinerja sistem. Suatu contoh ketika kepala kita pusing karena migrain atau karena flu yang berat, hal tersebut akan mengganggu keseluruhan kinerja tubuh kita. Tubuh menjadi lemas dan tidak bersemangat. Demikian pula yang terjadi dengan sistem yang bekerja pada sebuah sepeda motor misalnya, ketika ban sepeda motor kempes, sepeda motor tersebut tidak dapat berfungsi secara maksimal.
Seperti halnya, tubuh manusia dan sepeda motor. Sebagai suatu sistem, bahasa terdiri atas komponen-komponen yang membangun dan saling berhubungan. Dalam bahasa terdapat komponen bunyi, morfem, kata, kalimat, dan makna. Komponen-komponen tersebut dihubungkan sehingga terbentuk suatu ujaran yang bermakna. Sebagai contoh dapat kita amati bentuk berikut.
-    Anak kecil itu lucu sekali.
-    *Kecil itu lucu anak sekali.
Dua konstruksi tersebut sama-sama terdiri atas lima kata. Konstruksi pertama dapat diterima sebagai ujaran yang sesuai dengan sistem bahasa Indonesia, sedangkan ujaran yang kedua tidak dapat berterima karena tidak sesuai dengan sistem bahasa Indonesia. Dalam suatu sistem, terdapat kaidah-kaidah yang menata sehingga hubungan antara satu unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam suatu bahasa dapat berterima. Terdapat kaidah yang mengatur hubungan antarunsur secara linear (mendatar) yang mengatur hubungan unsur yang hadir dengan unsur yang mendaha\ului atau yang menyertai. Kaidah ini disebut sebagai kaidah sintagmatik. Misalnya hubungan antara bunyi /a/, /u/, /k/, dan /t/. Empat unsur bunyi tersebut dapat bergabung membentuk suatu konstruksi sebagai berikut.
-    /takut/
-    /kuta/
-    /kuat/
-    /akut/

-      */aukt/
-      */uakt/
-      */ktua/
-      */tkua/
-   */tkau/
Deretan bunyi sebelah kiri dapat berterima karena sesuai dengan kaidah sistagmatik bahasa Indonesia. Sedangkan deretan bunyi sebelah kanan yang diberi tanda asterik (*) tidak dapat berterima karena tidak sesuai dengan kaidah sintagmatik bahasa Indonesia.
Berbeda dengan kaidah sintagmatik, kaidah paradigmatik mengatur hubungan antara unsur yang ada dengan unsur yang belum ada. Misalnya dari konstruksi /kuta/ dapat berubah menjadi /kita/. Bunyi /u/ pada kuta diganti dengan bunyi /i/. Demikian pula dari /kita/ dapat diubah menjadi /kota/ dengan menggantikan bunyi /i/ dengn bunyi /o/.
            Dari paparan tersebut dapat diketahui sebagai sebuah sistem,  bahasa sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak dan  secara sembarangan. Sedangkan sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri atas subsistem atau sistem bawahan. Terdapat subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon dan semantik. Subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis bersifat hierarkial, dan terkait dengan subsistem semantik. Subsistem leksikon berada di luar subsistem struktural namun tetap terkait dengan subsistem semantik. Sistem bahasa yang bersifat hierarkial inilah yang membedakannya dengan sistem yang lain. Sistem lain umumnya tidak mempunyai sifat tersebut. 
            Dalam sistem bahasa yang hierarkis, tataran paling kecil adalah bunyi. Bunyi bergabung dengan bunyi membentuk morfem. Morfem bergabung dengan morfem membentuk kata. Kata bergabung dengan kata membentuk frase. Frase dengan frase membentuk konstruksi klausa. Satu klausa atau beberapa kalimat dapat bergabung membentuk suatu kalimat. Kalimat yang satu dirangkai dengan kalimat yang lain membangun konstruksi wacana.  Tataran dalam bahasa tersebut dapat dibagankan sebagai berikut.







fonem
m
a
k
n
a
morfem
kata
frase
klausa
kalimat
wacana

B.     Bahasa sebagai Lambang
Dalam studi semiotik  (ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia),  tanda  dibedakan  menjadi beberapa jenis yaitu tanda (sign), lambang  (symbol), isyarat/sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode (code), indeks (index), dan ikon (icon).
1. Tanda
Tanda adalah  suatu atau sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah. Tanda bisa dianggap sebagai istilah umum dalam studi semiotik. Misalnya ketika kita melihat adanya pecahan kaca berserakan di jalan, hal itu secara langsung dapat menjadi tanda kalau baru saja terjadi kecelakaan.  Contoh lain ketika kita melihat banyak lumpur di jalan dan bahkan masuk ke dalam rumah, hal tersebut dapat menjadi tanda kalau baru saja terjadi  banjir. Ketika banyak dahan berjatuhan dan beberapa pohon roboh, hal tersebut dapat menjadi tanda kalau baru terjadi angin ribut.

2.      Lambang atau simbol
Lambang atau simbol adalah suatu atau sesuatu yang menandai hal lain tidak secara langsung dan alamiah, tetapi bersifat konvensional. Misalnya warna merah secara konvensional  dianggap melambangkan  keberanian, sedangkan warna putih melambangkan  kesucian.  Tetapi dalam dunia perpolitikan di Indonesia, warna merah dianggap melambangkan PDI Perjuangan, warna hijau identik dengan PKB atau partai Islam, warna biru melambangkan Partai Amanat Nasional, dan warna kuning identik dengan Partai GOLKAR.
Bunyi-bunyi suatu bahasa dilambangkan dengan menggunakan huruf-huruf tertentu.  Setiap bahasa mempunyai konvensi tersendiri berkaitan dengan sistem huruf yang digunakan untuk melambangkan bunyi bahasanya. Bunyi-bunyi bahasa Indonesia dilambangkan dengan menggunakan huruf latin. Bahasa Jawa menggunakan huruf Jawa. Bahasa Arab menggunakan huruf Arab. Bahasa Jepang menggunakan huruf hiragana dan katakana.

3.      Sinyal atau isyarat
Sinyal atau isyarat adalah  tanda yang sengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu. Sinyal bersifat imperatif, memberikan suatu perintah kepada penerima sinyal untuk melakukan sesuatu. Misalnya ketika memberangkatkan lomba gerak jalan, ketua panitia memberi isyarat dengan melambaikan bendera. Seorang guru meniup peluit untuk memberi aba-aba muridnya lari 100 meter. Lampu lalulintas (traffic light)  juga merupakan suatu perintah bagi pengguna jalan. Merah sebagai aba-aba berhenti; kuning sebagai aba-aba untuk mengurangi kecepatan; dan hijau sebagai aba-aba untuk jalan.

4.      Gerak isyarat (gesture)
Gerak isyarat adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan dan tidak bersifat imperatif. Gerak isyarat ini juga merupakan sebuah konvensi.  Misalnya gerakan mengangguk pada suatu masyarakat tertentu digunakan untuk menyatakan  tanda setuju tetapi pada masyarakat lain justru sebaliknya digunakan untuk menyatakan ketidaksetujuan. Demikian juga dengan gerakan menggeleng, pada masyarakat tertentu untuk menyatakan  tanda tidak setuju, tetapi pada masyarakat lain justru untuk menyatakan setuju.



5.      Gejala
Gejala adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud tetapi secara almiah menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi. Misalnya ketika seseorang bersin-bersin. Hal itu menunjukkan gejala flu; panas yang tinggi  merupakan  gejala penyakit tipus.

6.      Kode
Kode adalah  tanda baik berupa simbol, sinyal, maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda, tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu. Kode bersifat sistematis yang dipahami oleh mereka yang sudah sepakat menggunakannya. Karena untuk menjaga kerahasiaan, sekelompok penutur tertentu menggunakan kode-kode agar tidak dipahami oleh orang lain.

7.      Indeks
Indeks adalah  tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain. Misalnya  adanya asap menunjukkan adanya api; suara gemuruh air menunjukkan adanya suatu air terjun atau datangnya banjir bandang.

8.      Ikon
Ikon adalah  gambar/patung  dari wujud yang diwakilinya.  Misalnya: denah jalan, gambar monumen, patung pahlawan.

C.     Bahasa adalah bunyi
            Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan tekanan udara.  Bunyi bahasa dihasilkan oleh alat ucap manusia (bersifat artikulatoris). Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia adalah bunyi bahasa (speech sound). Bunyi yang dihasilkan oleh seseorang yang sedang bersin atau sedang batuk bukan bunyi bahasa. Bunyi bahasa dapat dilambangkan dengan tanda-tanda tertentu yang disepakati oleh penutur bahasa tersebut. Setiap bahasa mempunyai kekhasan tersendiri berkaitan dengan bunyi-bunyi bahasa yang dimilikinya. Bunyi tertentu bisa jadi bersifat universal, ada dalam setiap bahasa. Tetapi, bunyi-bunyi tertentu hanya ditemukan dalam bahasa tersebut.

D.    Bahasa itu bermakna
Dalam suatu bahasa, ujaran atau kata-kata itu mempunyai makna.  Ujaran sebagai lambang (A) mempunyai makna (B) dan dalam realita kehidupan ditemukan rujukannya (C).  Hubungan ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut.
       B



                   A ------------------------------  C

A : lambang
B :  makna
C : acuan / referen
Sebagai contoh  kata kuda dilambangkan dengan deretan bunyi /k u d a/ (A). Deretan bunyi tersebut mempunyai makna B : ‘kuda’ yang merujuk pada binatang yang biasanya digunakan untuk tunggangan atau menarik sado (C). Kebermaknaan bahasa tersebut tidak hanya pada tataran kata, tetapi juga pada tataran bunyi, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Pada tataran kalimat misalnya, urutan kata dapat mempengaruhi makna yang dihasilkan. Misalnya pada kalimat berikut.
-    Adik sedang membacakan temannya puisi.
-    Temannya sedang membacakan adik puisi.
Kedua kalimat tersebut mempunyai unsur pembentuk yang sama, tetapi karena perbedaan urutan kata, makna kalimatnya jadi berbeda. Meskipun berbeda, kedua kalimat tersebut masih berterima dalam bahasa Indonesia.


E.     Bahasa itu arbitrer
Arbitrer berarti sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Istilah arbitrer berarti tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan acuan, konsep atau pengertian yang dimaksud.  Misalnya mengapa harus /kuda/ bukan /akud/ atau /kadu/. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya dengan /kuda/, dalam bahasa Inggris disebut /horse/, dalam bahasa Jepang disebut /uma/, dan dalam bahasa Jawa disebut /jaran/. Perbedaan dalam menyebutkan tersebut menunjukkan bahwa bahasa itu bersifat arbitrer.
Namun demikian, kita juga menemukan beberapa kata yang antara lambang bunyi dengan rujukannya seolah-olah mempunyai hubungan. Misalnya pada bunyi-bunyi onomatope (kata yang berasal dari tiruan  bunyi).  Kucing disebut meong  karena dalam telinga kita kucing mengeluarkan bunyi seperti itu. Seekor binatang dinamakan tokek karena mengeluarkan bunyi tokek, tokek, tokek. Dalam bahasa Jawa misalnya ditemukan kata-kata yang jika diotak-atik mempunyai hubungan dengan rujukannya. Misalnya kata kodok, tebu, kathok, cangkir. Kodok diartikan sebagai teko-teko ndodok; tebu, antebing kalbu; kathok, ngangkate sitok-sithok, dan cangkir diartikan sebagai panyancanging pikir.

F.      Bahasa itu konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep bersifat konvensional, artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya dalam bahasa Indonesia terdapat kata saya yang sudah disepakati oleh penutur bahasa Indonesia. Kata tersebut tidak bisa diubah menjadi ayas.
Dalam masyakarat tutur tertentu karena untuk suatu kepentingan kadang-kadang kata-kata ang sudah disepakati tersebut diubah. Misalnya bahasa balikan yang dilakukan oleh kelompok tutur dari Malang, atau kelompok tutur tertentu yang tidak ingin ujarannya diketahui oleh orang lain. Para waria misalnya, menciptakan kata-kata tertentu agar ujarannya hanya dipahami oleh komunitas tuturnya saja. Jika sudah diketahui banyak orang, maka mereka akan melakukan inovasi lagi.

G.    Bahasa itu produktif
Bahasa memiliki unsur yang  terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan  bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa tersebut. Bahasa Indonesia hanya mempunyai lima vokal dan sejumlah konsonan tetapi dengan jumlah bunyi yang terbatas tersebut penutur bahasa Indonesia dapat berbahasa dalam waktu yang sangat lama dan mereka tidak pernah kehabisan kata dalam bahasa Indonesia. Karena dengan jumlah unsur yang terbatas dapat dihasilkan ujaran yang tidak terbatas inilah bahasa dikatakatan bersifat produktif.

H.    Bahasa itu unik
Setiap bahasa mempunyai ciri khas yang spesifik tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas tersebut dapat menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, dan sistem lainnya. Dalam sistem bunyi misalnya, penutur bahasa Indonesia dari Bali akan kesulitan melafalkan /t/, mereka biasa melafalkannya sebagai /th/. Itulah keunikan lafal dalam bahasa Bali yang berbeda dengan bahasa Indonesia. Dalam bidang kalimat, kalimat bahasa Indonesia mempunyai struktur S-P-O yang berbeda dengan kalimat bahasa Jepang yang berstruktur S-O-P.

I.        Bahasa itu universal
Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya semua bahasa mempunyai bunyi vokal dan konsonan, setiap bahasa mempunyai satuan-satuan yang bermakna baik berupa leksikon, frase, klausa, kalimat, dan wacana.



J.       Bahasa itu dinamis
Bahasa itu mengalami perubahan karena keterkaitan bahasa dengan manusia dan kehidupannya.  Ketika kehidupan berubahan, bahasa pun ikut berubah. Perubahan tersebut bisa terjadai pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Misalnya: /f/ - /p/ : faham – paham;  /kh/ - /k/: - khabar – kabar; memper – kan, diper – kan, diber – kan; sarjana, berlayar, saudara, bapak, ibu (kata-kata tersebut mengalami perubahan makna).

K.    Bahasa itu manusiawi
Bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Manusia adalah homo sapien ‘mahkluk yang berpikir’, homo sosio ‘ mahkluk yang bermasyarakat’; homo faber ‘mahkluk pencipta alat-alat’; animal rationale ‘makhluk rasional yang berakal budi’. Semua karakteristik manusia tersebut tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Selain manusia, simpanse juga memiliki kemampuan untuk mengingat dan melafalkan sejumlah kata tetapi binatang tersebut tidak mampu menggunakan apa yang dilafalkannya itu untuk berkomunikasi. Dengan demikian semakin mempertegas bahwa bahasa benar-benar hanya milik manusia. Binatang mempunyai alat komunikasinya sendiri dan itu bukan bahasa seperti bahasa yang dimiliki oleh manusia.

L.  Bahasa itu bervariasi
Bahasa digunakan oleh suatu masyarakat tutur. Anggota masyarakat tutur tersebut berasal dari berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang berbeda. Hal tersebut menyebabkan terjadi variasi bahasa. Berkaitan dengan ini terdapat berbagai istilah idiolek,  dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat dan suatu waktu. Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk kepentingan tertentu. Dengan mencermati cara berbahasa Indonesia seseorang misalnya, kita dapat menduga orang tersebut berasal dari mana. Hal ini sangat dimungkinkan karena penutur bahasa Indonesia sering dipengaruhi oleh bahasa daerahnya. Kelompok etnis tertentu memiliki karakteristik yang kuat sehingga dapat menunjukkan dialeknya. Misalnya etnis Batak, Bali, Madura. Pada kelompok masyarakat tutur tersebut pemakaian bahasa Indonesia memiliki kekhasan tersendiri. 
            Ragam bahasa juga menunjukkan kebervariasian suatu bahasa. Ragam bahasa tersebut dapat dilihat dari pemakai dan pemakaiannya. Dilihat dari pemakainya dapat dibedakan bahasa Indonesia ragam dokter, pengacara, pejabat, guru, politikus, insiyur, pramuniaga, dan lain-lain. Dari pemakainya tersebut memunculkan ragam bahasa berdasarkan pemakaiannya, yaitu ragam bahasa kedokteran, hukum, politik, teknik, perdagangan, pendidikan, dan lain-lain.   

2.3  Rangkuman
Bahasa manusia mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan alat komunikasi yang lain. Karakteristik tersebut mencakup Bahasa merupakan (1) suatu sistem, (2) suatu lambang, (3) suatu bunyi, (4) bermakna, (5) arbitrer, (6) konvensional, (7) produktif, (8) dinamis, (9) unik, (10) universal, (11) manusiawi, (12) bervariasi. Sebagai sebuah sistem bahasa mempunyai kekhasan selain bersifat sistemis dan sistematis, sistem bahasa bersifat hierakhis. Sebagai lambang, bahasa merupakan sebuah konvensi. Antara lambang dan yang dilambangkan bersifat konvensional.  Lambang tersebut melambangkan bunyi-bunyi yang bermakna. Hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya bersifat arbitrer atau manasuka. Sedangkan pemakaian lambang bahasa bersifat konvensional, sebagai kesepakatan yang dilakukan secara diam-diam antarmasyarakat tutur bahasa tersebut.  Bahasa juga bersifat produktif, dengan unsur yang terbatas dapat membentuk ujaran yang tidak terbatas;  bahasa itu dinamis karena selalu mengalami perubahan terutama yang berhubungan dengan kosakatanya; bahasa itu unik karena setiap bahasa mempunyai kekhasan tersendiri, sedangkan bahasa itu universal karena selalu ada hal-hal yang dapat ditemukan dalam setiap bahasa. Bahasa itu manusiawi karena hanya manusia yang mempunyai bahasa dan kebervariasian bahasa dapat dilihat dari keragaman yang muncul akibat pengaruh daerah/lokal, pemakai, dan bidang pemakaian.

2.4 Soal Latihan
Perintah: Jawablah dengan singkat dan jelas!
1.  Jelaskan dengan contoh bahwa sebagai sistem bahasa itu bersifat sistemis dan sistematis!
2.  Apakah yang dimaksud sistem bahasa itu bersifat hierarkhis? Berikan contoh!
3.  Jelaskan perbedaan suatu lambang dengan suatu simbol! Berikan contoh!
4.  Di manakah letak kearbitreran bahasa?
5.  Jika sekelompok penutur suatu bahasa melakukan perubahan terhadap kata-kata dalam bahasa tersebut sehingga penutur lain tidak memahami maknanya, maka dapatkah hasil inovasi itu dikatakan sebagai suatu bahasa? Berikan argumentasi Saudara!
6.  Berikan bukti-bukti bahwa bahasa itu bersifat dinamis!
7.  Jelaskan keunikan bahasa Ibu Saudara yang membedakannya dengan bahasa Indonesia!
8.  Setujukah Saudara dengan pernyataan yang mengatakan bahwa bahasa itu hanya milik manusia? Mengapa!
9.  Apakah yang dimaksud bahasa itu bersifat produktif? Berikan contoh!
10. Dapatkah ujaran yang dihasilkan oleh siswa Sekolah Dasar dianggap sebagai ragam bahasa? Mengapa!
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Read more: Menampilkan Koordinat Mouse di Halaman Blog | Mas Bugie [dot] com http://www.masbugie.com/2011/01/menampilkan-koordinat-mouse-di-halaman.html#ixzz2ErQJ3xw6