Rabu, 12 Desember 2012

KATA DAN PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA INDONESIA

BAB IV
KATA DAN PEMBENTUKAN KATA
DALAM BAHASA INDONESIA


4.1  Tujuan
            Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat:
a.       menjelaskan perbedaan konsep morf, morfem, dan kata
b.      menjelaskan jenis kata dalam bahasa Indonesia
c.       menjelaskan cara pembentukan kata dalam bahasa Indonesia
4.2  Materi

A.  Konsep Morf, Alomorf, Morfem, dan Kata
Untuk memahami ketiga konsep tersebut, marilah kita cermati contoh kalimat berikut. “Mahasiswa PGSD berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen dengan terus belajar tanpa mengenal lelah.”  Kalimat tersebut terdiri atas 12 kata. Ada kata yang terdiri atas satu morfem, ada pula kata-kata yang terdiri atas lebih dari satu morfem. Kata mahasiswa, PGSD, tugas, yang, oleh, dosen, dengan, terus,  tanpa, dan lelah merupakan kata yang terdiri  atas satu morfem, sedangkan kata  berusaha, menyelesaikan, diberikan, belajar, dan mengenal terdiri atas lebih dari satu morfem.  Kata berusaha terdiri atas morfem ber- dan usaha; kata menyelesaikan terdiri atas morfem konfiks meN-kan dan selesai; kata diberikan terdiri atas tiga morfem, yaitu di-, beri, dan akhiran –kan; kata belajar terdiri atas dua morfem yaitu ber- dan ajar; kata mengenal terdiri atas dua morfem yaitu morfem meN- dan kenal.
Dari contoh tersebut dapat dibedakan konsep kata dan morfem. Sebuah kata dapat terdiri atas sebuah morfem, tetapi dapat pula terdiri atas lebih dari satu morfem. Sebaliknya sebuah morfem dapat menjadi sebuah kata tetapi dapat pula bukan merupakan sebuah kata. Hal ini sangat bergantung pada jenis morfemnya. Morfem mahasiswa, tugas, dosen, dengan, yang merupakan sebuah kata, sedangkan morfem ber-, meN- bukan sebuah kata.  Dengan demikian, apakah yang dimaksud dengan morfem dan apa yang dimaksud dengan kata? Morfem merupakan satuan gramatik yang paling kecil, yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Sedangkan kata merupakan satuan gramatik bebas terkecil yang bermakna.
Apakah yang dimaksud dengan morf? Kalau kita cermati contoh di kalimat di atas, terdapat beberapa kata yang sebenarnya mempunyai morfem yang sama tetapi wujudnya berbeda. Misalnya kata berusaha dan belajar; menyelesaikan dan mengenal.  Kata berusaha dan belajar sama-sama mengandung morfem ber- tetapi pada kedua kata tersebut mempunyai realisasi yang berbeda, yaitu ber- pada kata berusaha dan bel- pada kata belajar.  Dengan demikian, morf dapat diartikan sebagai wujud nyata atau realisasi dari suatu morfem. Bentuk ber- dan bel masing-masing merupakan sebuah morf  yang merupakan alomorf (variasi morf) dari sebuah morfem yaitu morfem ber. Pada kata bekerja dan beternak, kita menemukan alomorf lain dari morfem ber-, yaitu morf be-.


B. Jenis Kata
            Penjenisan kata dapat dilihat dari berbagai aspek dan sudut pandang.  Berdasarkan strukturnya kita dapat membedakan kata asal dan kata jadian, sedangkan berdasarkan kategorisasinya kata dapat dibedakan menjadi nomina, verba, ajektiva, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis akan dipaparkan sebagai berikut.
1. Kata Asal dan Kata Jadian/Turunan
            Kata asal adalah kata yang menjadi asal dari suatu bentukan atau kata yang belum mengalami proses morfologis (proses pembentukan kata). Sedangkan kata Jadian/turunan adalah kata yang telah mengalami proses morfologis, baik melalui afiksasi (prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks), reduplikasi, maupun komposisi.
Contoh:
- kata asal:  rumah
- kata jadian: perumahan, dirumahkan, rumah-rumah, rumah tangga, rumah sakit
            Pada contoh di atas, kata asal rumah  dapat berubah menjadi kata jadian,
kata asal: kata perumahan  dan dirumahkan melalui proses afiksasi; berubah menjadi rumah-rumah melalui proses reduplikasi; dan berubah menjadi rumah tangga dan rumah sakit melalui proses komposisi.
Contoh lain misalnya dari kata asal: kata dapat berubah menjadi kata jadian: berkata, mengatakan, kata-kata, mengata-ngatai, mengata-ngatakan,  kata hati.  Melalui proses apakah perubahannya? Silakan didiskusikan dengan teman Saudara!

2. Kategori Kata Bahasa Indonesia
            Kategori kata  merupakan masalah yang cukup rumit. Pandangan satu ahli dengan ahli lain sangat berbeda bergantung pada aliran linguistik apa yang mereka anut.  Kategori kata di bawah ini dipilih berdasarkan penguasaan kata untuk anak usia Sekolah Dasar. Kata-kata tersebut yaitu:
a.       Kata benda (nomina):  ibu, rumah, mainan, kecantikan, Surabaya
b.      Kata kerja (verba): lari, tidur, kehujanan, meletus
c.       Kata sifat (adjektiva): pandai, cantik, tinggi
d.      Kata bilangan (numeralia): satu, kedua, beberapa, banyak
e.       Kata ganti (pronomina): aku (ku), engkau (kau), kamu, dia, mereka, ini, itu
f.       Kata depan (preposisi): di, ke, dari, pada
g.      Kata sambung (konjungsi): dan, atau, tetapi, ketika, yang
Definisi masing-masing kata tidak dipaparkan dalam buku ini. Silakan didalami sendiri berdasarkan referensi yang ada dalam daftar pustaka.  Masing-masing kategori dapat dicermati berdasarkan perilaku morfologis, sintaktis, dan berdasarkan aspek semantisnya. Sebagai contoh kata benda (nomina). Secara semantis, nomina diartikan sebagai kata yang melabeli suatu benda baik secara konkret maupun abstrak. Misalnya ayah, malaikat, dan cinta. Kata ayah merupakan kata yang konkret, tetapi malaikat dan cinta merupakan kata yang abstrak. Secara morfologis, nomina dapat berupa bentuk asal, tetapi dapat pula berupa kata jadian baik melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi; sedangkan berdasarkan perilaku sintaktisnya, nomina biasanya dapat diikuti oleh kata itu, -nya, yang dan dapat menduduki fungsi Subjek, Predikat, Objek, maupun Keterangan.

C.     Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia

Kata dalam bahasa Indonesia dibentuk melalui proses morfologis dan di luar proses morfologis. Proses morfologis  yaitu proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dengan kata lain proses morfologis adalah peristiwa penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain menjadi kata. Ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis yaitu mengalami perubahan bentuk, mengalami perubahan arti, mengalami perubahan kategori/jenis kata. Terdapat tiga cara pembentukan kata melalui proses morfologis, yaitu afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

1.  Proses Morfologis
a. Afiksasi
            Afiksasi merupakan proses penambahan morfem afiks pada bentuk dasar.  Afiks tersebut dapat berupa prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konfiks dan simulfiks (imbuhan gabung). Contoh masing-masing adalah sebagai berikut.
- Prefiks: ber-, pe-,  peN-; berlari, pelari, pembunuh

- Infiks: er, el, em; gerigi, gelegar, gemetar

- Sufiks:  -kan, -i, -isasi, -wan, -man; bacakan, lempari, reboisasi, hartawan, budiman

- Konfiks: ke-an, per-an; kemanusiaan,  perlakuan, perbuatan

- Simulfiks:  memper-kan, diper-kan; mempertanggungjawabkan, diperlakukan

            Proses afiksasi ini biasanya akan menyebabkan terjadi perubahan fonem pada suatu kata. Untuk itu perlu kita cermati bersama kaidah morfofonemis yang merupakan kaidah yang mengatur perubahan bunyi akibat proses morfologis.  Kaidah tersebut adalah sebagai berikut.

Kaidah Perubahan Fonem
1)            Fonem /N/ pada morfem afiks {meN-}  dan {peN-} akan berubah menjadi /m/   apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /p/,/ b/, dan /f/.
Misalnya:
         - meN- + pikir   à  memikir
         - meN- + bakar  à  membakar
- meN- + fitnah  à  memfitnah
- peN- +  potong   à  pemotong
- peN- + bual à pembual
- peN- + fitnah à pemfitnah
2)            Fonem /N/ pada morfem afiks {meN-} dan {peN-} akan berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t/, /d/, dan /s/ yang berasal dari bahasa asing dan masih terasa keasingannya.
         Contoh:
- meN- + tolak à menolak
- meN- + daki à mendaki
- meN- + suplai à mensuplai
- peN- + tanam  à penanam
- peN- + daki à pendaki
- peN- + survai  à pensurvai
3)     Fonem /N/ pada morfem afiks {meN-} dan  {peN-}  akan berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /s/, /s/, /c/, dan /j/.
Misalnya:
- meN- + sabit à menyabit
- men- i + syukur à mensyukuri
- meN- + cetak à mencetak
- meN- + jual à menjual
- peN- + sulap à penyulap
- peN- + ceramah  à penceramah
- peN- +  jajah à penjajah
4)            Fonem /N/ pada  morfem afiks {meN-} dan {peN-} akan berubah menjadi /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k/, /g/, kh/, /h/, dan /vokal/.
Misalnya:
- meN- + kutip à mengutip
- meN- + goreng à menggoreng
- meN- + khitan à mengkhitan
- meN- + hias à menghias
- meN- + angkat  à mengangkat
- meN- + ikat à mengikat
- meN- + ukur à mengukur
- meN- + ejek à mengejek
- meN + operasi à mengoperasi
5)      Fonem /r/ pada morfem asiks ber- dan per- akan berubah menjadi /l/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berupa morfem ajar.
Misalnya:
- ber- + ajar à belajar
- per- + ajar à pelajar
6)      Fonem /?/ (hamzah) yang menduduki posisi akhir pada bentuk dasar akan     berubah menjadi /k/ apabila diikuti atau bergabung dengan morfem afiks peN-an, ke-an, per-an, dan -an.
         Misalnya:
- peN-an + kutuk à pengutukan
- peN-an + tolak à penolakan
- ke-an + duduk à kedudukan
- ke-an + elok à keelokan
- per-an + budak à perbudakan
- per-an + minyak à perminyakan
- an + kutuk à kutukan
- an + petik à petikan

Kaidah Penambahan Fonem
1)  Apabila morfem afiks {meN-} dan {peN-} diikuti oleh bentuk dasar yang bersuku satu akan terjadi penambahan fonem /e/ sehingga {meN-} menjadi {menge-} dan {peN-} menjadi {penge-}.
Misalnya: 
- meN- + las à mengelas
     - meN- + cat à mengecat
- peN- + las à pengelas
     - peN- + cat à pengecat
2)      Apabila morfem afiks {peN-an}, {ke-an}, {per-an}, dan {-an} bertemu dengan bentuk dasar : (1) berakhir dengan vokal /a/ akan terjadi penambahan fonem /?/, (2) berakhir dengan vokal /u/, /o/, dan /au/ akan terjadi penambahan /w/, dan (3) berakhir dengan vokal /i/ dan /ay/ akan terjadi penambahan fonem /y/.
Contoh:
- peN-an + nama à penamaan /penama?an/
- ke-an + sengaja à kesengajaan
-  per-an + coba à percobaan
-  paksa + -an à paksaan
-  peN-an + buku à pembukuan /pembukuwan/
-  ke-an + satu à kesatuan
- per-an + sekutu à persekutuan
- satu + -an à satuan
- peN-an + veto à pemvetoan /pemvetowan/
- per-an + toko à pertokoan
- peN-an + bau à pembauan
- ke-an + pulau à kepulauan
- jangkau + -an à jangkauan
- peN-an + daki à pendakian /pendakiyan/
- ke-an + lestari à kelestarian
- per-an + judi à perjudian
- cuci + -an à cucian

Kaidah Penghilangan Fonem
1)            Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} akan mengalami penghilangan apabila bertemu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w/  dan /nasal/
Contoh: 
-    meN- + larang à melarang
-    meN- + ramal à meramal
-    meN- + nyanyi à menyanyi
-    meN- + nikah à menikah

-    peN- + lamar à pelamar
-    peN- + ramal à peramal
-    peN- + waris  à  pewaris
-    peN- + nyanyi à penyanyi
-    PeN- + malu à pemalu 

2)            Fonem /r/ pada { ber-} dan {ter-},akan mengalami penghilangan apabila bertemu dengan bentuk yang berawal dengan /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya mengandung /er/.
Contoh:
-    ber + ragam à beragam
-    ter- + rebut à terebut
-   ber- + ternak à   beternak

3)            Fonem / k,  p,  t,  s/ pada awal bentuk dasar yang bertemu dengan {meN-} dan  {peN-} akan mengalami penghilangan fonem kecuali untuk bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing dan masih terasa keasingannya. Misalnya:
-    meN- + kapur à mengapur
-    meN- + pikir à memikir
-    meN- + tolak à menolak
-      meN- + siram à menyiram
- peN- + kejar à  pengejar
-    peN- + pikir à pemikir
-    peN- + tulis à penulis
- peN- + sadap à penyadap


b.Reduplikasi
            Reduplikasi merupakan proses pengulangan bentuk dasar yang dilakukan dengan pengulangan seluruh, pengulangan sebagian, pengulangan berkombinasi dengan afiks, pengulangan berubah bunyi.
- rumah-rumah
- perumahan-perumahan
- berlari-lari
- mengata-ngatakan
- mengata-ngatai
- kebarat-baratan
- sayur-mayur
- lauk-pauk
            Bentuk rumah-rumah dan perumahan-perumahan  merupakan pengulangan secara utuh, artinya seluruh bentuk dasar mengalami proses pengulangan.  Bentuk berlari-lari dan mengata-ngatakan mengalami pengulangan sebagian. Bentuk mengata-ngatai dan kebarat-baratan mengalami pengulangan berkombinasi dengan afiks, sedangkan sayur-mayur dan lauk-pauk merupakan pengulangan berubah bunyi.

c.       Komposisi
          Komposisi merupakan suatu proses penggabungan dua atau lebih bentuk dasar sehingga menimbulkan makna yang relatif baru.  Makna yang timbul akibat penggabungan tersebut ada yang dapat ditelurusuri dari unsur yang membentuknya, ada yang maknya tidak berkaitan dengan unsur pembentuknya, dan ada yang mempunyai makna unik. Contoh masing-masing tipe dapat dilihat pada contoh berikut.


- rumah makan
- pisang goreng
- matahari
- kumis kucing
- tua renta
- muda belia

2.  Pembentukan di luar Proses Morfologis

Pembentukan kata di luar proses morfologis dibentuk melalui beberapa cara, yaitu akronim, abreviasi, abreviakronim,  kontraksi,  dan kliping. 

a.       Akronim; pemendekan dengan mengambil satu suku atau lebih kata-kata asalnya. Misalnya:
-  krismon (krisis moneter)
-  sembako (sembilan  bahan pokok)
-  kultum (kuliah tujuh menit)
-  sisdiknas (sistem pendidikan nasional)
- sekwilda (sekretaris wilayah daerah)
b.      Abreviasi; pemendekan dengan mengambil huruf pertama setiap kata asalnya.
- ABG (Anak Baru Gede; atas Bawah Gede)
- PGTK (Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak)
- PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)
- BLK (Balai Latihan Kerja)
c.   Abreviakronim; gabungan dari abreviasi dan akronim.
- AKABRI
- PEMILU
d.         Kontraksi; pemendekan dengan pengerutan bentuk.
      - tidak – tak
      - saya pergi – sapi (dalam kebiasan bahasa masyarakat Nusa Tenggara).
e.       Kliping;  pemendekan dengan mengambil sebagian untuk mewakili seluruh.
-  influensa – flu
- dokter –dok
-  profesor – prof
4.3  Rangkuman
            Morf merupakan wujud nyata suatu morfem. Morfem merupakan satuan terkecil yang tidak bisa dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil lagi, sedangkan kata adalah satuan gramatik terkecil yang telah memiliki makna.
Kata dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu.
Kata dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk melalui proses morfologis yang meliputi afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Perubahan bunyi akibat proses morfologis diatur dalam kaidah morfofonemis. Selain itu, kata juga dapat dibentuk melalui proses non proses morfologis, yaitu akronim, abreviasi, abreviakronim, kontraksi, kliping.




4.4 Soal Latihan
Perintah: Jawablah dengan singkat dan jelas!
   Soal:
1.      Jelaskan perbedaan morf, morfem, dan kata! Berilah masing-masing empat contoh!
2.      “Seekor bangau terbang rendah, lalu hinggap tepat di depan pimtu.”
Terdiri atas berapa kata dan morfemkah kalimat tersebut?
3.      Berikan lima buah contoh kata dalam bahasa Indonesia yang menyu\impang daru kaidah morfofonemis!
4.      Mengapa bentuk mengata-ngatakan dan mengata-ngatai dikelompokkan dalam jenis pengulangan yang berbeda? Jelaskan!
5.      Jelaskan perbedaan pengulangan sebagian dengan pengulangan berkombinasi dengan afiks! Berikan contoh!
6.      Dapatkah kata lelaki, lelakon, reranting, pepohon diklasifikasikan sebagai hasil pengulangan? Mengapa? Jelaskan!
7.      Mengapa bentuk kumis kucing, mata sapi, tangan kanan dapat termasuk kata majemuk tetapi juga dapat menjadi bukan kata majemuk? Berikan contoh kalimat yang membedakannya sebagai kata majemuk dan bukan kata majemuk!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Read more: Menampilkan Koordinat Mouse di Halaman Blog | Mas Bugie [dot] com http://www.masbugie.com/2011/01/menampilkan-koordinat-mouse-di-halaman.html#ixzz2ErQJ3xw6